RSS
Sampingan
26 Apr

ASAM BASA

      Asam sering dikenali sebagai zat berbahaya dan korosif. Hal ini benar untuk beberapa jenis asam yang digunakan di laboratorium, seperti asam sulfat dan asam klorida. Tetapi asam yang tidak berbahaya juga banyak ditemui dalam kehidupan sehari – hari. Misalnya pada cuka dan buah – buahan. Seperti halnya asam, basa juga sering digunakan dalam kehidupan sehari – hari. Misalnya dalam pasta gigi, deterjen, atau cairan pembersih. Secara umum, asam dapat dikenali dari bau dan rasanya yang tajam / asam. Sedangkan basa bersifat licin dan rasanya pahit. Bila diteteskan pada kertas litmus, asam akan memberikan warna merah dan basa akan memberikan warna biru.

1. Teori – teori Asam Basa

a. Teori Arrhenius Menurut Arrhenius (1884),

Image

     asam adalah zat yang melepaskan ion H+ atau H3O+ dalam air. Sedangkan basa adalah senyawa yang melepas ion OH- dalam air. HA + aq  H+(aq) + A-(aq) BOH + aq  B+(aq) + OH-(aq) Di dalam air, ion H+ tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk ion dengan H2O. H+ + H2O  H3O+ (ion hidronium) Berdasarkan jumlah ion H+ yang dapat dilepaskan, asam dapat terbagi menjadi

  • Asam monoprotik  melepaskan 1 ion H+ Contoh : asam klorida (HCl) HCl  H+(aq) + Cl-(aq)   
  • Asam diprotik  melepaskan 2 ion H+ Contoh : asam sulfat (H2SO4) H2SO4  H+(aq) + HSO4-(aq) HSO4-  H+(aq) + SO42-(aq) 
  • Asam triprotik  melepaskan 3 ion H+ Contoh : asam fosfat (H3PO4) H3PO4  H+(aq) + H2PO4-(aq) H2PO4-  H+(aq) + HPO42-(aq) HPO42-  H+(aq) + PO43-(aq) 

        Bila asam dan basa direaksikan, maka produk yang akan terbentuk adalah senyawa netral (yang disebut garam) dan air. Reaksi ini disebut sebagai reaksi pembentukan garam atau reaksi penetralan, yang akan mengurangi ion H+ dan OH- serta menghilangkan sifat asam dan basa dalam larutan secara bersamaan. Jika asam yang bereaksi dengan basa adalah asam poliprotik, maka akan dihasilkan lebih dari satu jenis garam. Misalnya pada rekasi antara NaOH dengan H2SO4. NaOH + H2SO4  NaHSO4 + H2O NaHSO4 + NaOH  Na2SO4 + H2O Senyawa NaHSO4 disebut sebagai garam asam, yaitu garam yang tebentuk dari penetralan parsial asam poliprotik. Garam asam bersifat asam, sehingga dapat bereaksi dengan basa membentuk produk garam lain yang netral dan air.

 b. Teori Brönsted – Lowry

      `Teori Arrhenius ternyata hanya berlaku pada larutan dalam air. Teori ini tidak dapat menjelaskan fenomena pada reaksi tanpa pelarut atau dengan pelarut bukan air. Pada tahun 1923, Brönsted – Lowry mengungkapkan bahwa sifat asam – basa ditentukan oleh kemempuan senyawa untuk melepas / menerima proton (H+). Menurut Brönsted – Lowry, asam adalah senyawa yang memberi proton (H+) kepada senyawa lain. Contoh : HCl + H2O  H3O+ + Cl- Sedangkan basa adalah senyawa yang menerima proton (H+) dari senyawa lain. Contoh : NH3 + H2O  NH4+ + OH- Dalam larutan, asam / basa lemah akan membentuk kesetimbangan dengan pelarutnya. Misalnya HF dalam pelarut air dan NH3 dalam air. HF + H¬2O  H3O+ + F- NH3 + H2O  NH4+ + OH- Pasangan a1 – b2 dan a2 – b1 merupakan pasangan asam – basa konjugasi.

 Asam konjugasi : asam yang terbentuk dari basa yang menerima proton

 Basa konjugasi : basa yang terbentuk dari asam yang melepas proton Teori Brönsted – Lowry memperkenalkan adanya zat yang dapat bersifat asam maupun basa, yang disebut sebagai zat amfoter. Contohnya adalah air. Di dalam larutan basa, air akan bersifat asam dan mengeluarkan ion positif (H3O+). Sedangkan dalam larutan asam, air akan bersifat basa dan mengeluarkan ion negatif (OH-).

c. Teori Lewis

Image

    

     Lewis mengelompokkan senaywa sebagai asam dan basa menurut kemampuannya melepaskan / menerima elektron. Menurut Lewis, Asam : – senyawa yang menerima pasangan elektron – senyawa dengan elektron valensi < 8 Basa : – senyawa yang mendonorkan pasangan elektron – mempunyai pasangan elektron bebas Contoh : Reaksi antara NH3 dan BF3 H3N : Nitrogen mendonorkan pasangan elektron bebas kepada boron. Pasangan elektron bebas yang didonorkan ditandai dengan tanda panah antara atom nitrogen dan boron.

         Kelebihan teori Lewis ini adalah dapat menjelaskan reaksi penetralan yang dilakukan tanpa air. Misalnya pada reaksi antara Na2O dan SO3. Menurut Arrhenius, reaksi penetralan ini harus dilakukan dalam air. Na2O + H2O  2 NaOH SO3 + H2O  H2SO4 2 NaOH + H2SO4  2 H2O + Na2SO4 Teori Lewis memberikan penjelasan lain untuk menjelaskan reaksi ini.

 Na2O(s) + SO3(g)  Na2SO4(s) 2 Na+ + O2-  2 Na+ + [ OSO3 ]2- 

ASAM BASA …

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 26, 2012 in class X

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: